Teknologi "Anti Tuyul" Gojek dalam Upaya Mengatasi Order Fiktif


Image result for gojek


Maraknya aplikasi ojek online di Indonesia tidak bisa dipungkiri sangat membantu banyak orang, entah itu untuk pergi ke kantor, ke kampus, atau sekadar jalan-jalan. Ojek online juga membantu menyediakan lapangan pekerjaan. Go-Jek juga menawarkan berbagai macam bonus bagi driver dengan syarat-syarat yang harus dipenuhi, salah satunya adalah dengan syarat mengambil sekian banyak penumpang dalam satu hari. Mengakali sistem Go-Jek ini, driver banyak yang tertangkap melakukan order fiktif. Apa itu order fiktif? Order fiktif adalah suatu tindakan pemesanan Gojek yang dilakukan oleh driver, seolah-olah mengantarkan seorang pelanggan. Driver menggunakan dua ponsel dengan dua aplikasi di dalamnya. Di satu ponsel ia berperan sebagai pelanggan, dan di ponsel lainnya berperan sebagai driver. Tindakan ini semata-mata bertujuan mendapatkan bonus yang besar karena aplikasi akan merekam jumlah pelanggan yang diantarkan oleh driver. Semakin banyak record pelanggan, semakin besar bonus yang didapatkan.

Tapi, lama kelamaan siasat ini sampai juga di telinga CEO Go-Jek, Nadiem Makarim. Go-Jek akhirnya meluncurkan fitur terbaru untuk mengurangi jumlah order fiktif ini. Teknologi ini dinamakan teknologi "Anti Tuyul". Teknologi ini mampu melacak dan memblokir order-order yang berasal dari fake GPS. Namun, cara Go-Jek sedikit berbeda. "Go-Jek pada dasarnya selalu menjunjung prinsip keadilan dan kejujuran. Penggunaan aplikasi GPS palsu merugikan mitra sendiri dan juga mitra lainnya yang bekerja dengan jujur," tutur VP Corporate Affairs Go-Jek, Michael Reza Say. Oleh sebab itu, Go-Jek telah menjalankan kebijakan Hapus Tuyul atau menghapus aplikasi GPS palsu di Jakarta, Bandung, Pontianak, Tegal, Surabaya, Medan, dan Balikpapan sejak Maret 2018. "Hal ini merupakan langkah awal kami untuk memastikan ruang bekerja yang bersih, jujur dan adil bagi para mitra. Hingga saat ini kami telah berhasil menurunkan angka pengguna GPS palsu lebih dari setengahnya," ujar Michael.

Dalam beberapa waktu ke depan, Go-Jek juga akan menerapkan sistem pengalokasian pengemudi yang diperbarui. Melalui cara ini, mitra pengemudi yang berlaku jujur akan mendapatkan lebih banyak pesanan. Maksudnya, mitra pengemudi yang terdeteksi menggunakan aplikasi fake GPS atau aplikasi tambahan tidak resmi lainnya akan lebih sulit mendapatkan pesanan. Sementara mitra pengemudi yang tidak melakukannya akan lebih diuntungkan. "Kami juga selalu mengimbau agar mitra driver menghentikan penggunaan GPS palsu karena dapat menganggu keamanan data dari akun mitra itu sendiri," tuturnya menjelaskan. Dari sisi order fiktif, Michael menuturkan, sistem Go-Jek sudah lebih baik dalam mengidentifikasi dan menangani order fiktif. Menurut Michael, 90 persen pesanan fiktif telah berhasil dihentikan sebelum sampai ke aplikasi mitra pengemudi Go-Jek. "Kami akan melihat pola anomali dari akun tersebut. Yang pasti, kami akan terus memperbarui sistem sehingga permasalahan ini dapat diselesaikan secara menyeluruh agar tidak mengganggu aktivitas para mitra," ucap Michael menutup pembicaraan.

Sampai saat ini, teknologi terbaru Go-Jek ini mampu cegat 90% order fiktif yang masuk ke aplikasi, seperti yang dituturkan oleh Director Corporate Affairs GO-JEK, Nila Marita. Bahkan sistem itu juga mampu mengetahui pangkal permasalahan ofik. Misalnya mulai dari mitra pengemudi yang sengaja curang hingga konsumen yang menyalahgunakan aplikasi GO-JEK. ”Namun yang menarik, sistem kami mendeteksi lebih dari 80% sebaran ofik terkonsentrasi di area-area dan jam tertentu, sehingga kami mencurigai aksi ofik ini sengaja dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab yang memiliki misi hanya untuk membawa order fiktif ke platform GO-JEK,” ungkap Nila dalam keterangan tertulis. Dia menambahkan GO-JEK menyesalkan atas fakta tersebut mengingat akan merugikan mitra yang jujur maupun GO-JEK sebagai penyedia layanan. ”Dalam proses identifikasi, verifikasi dan pemberian sanksi, GO-JEK memiliki standar tata kelola tinggi. Kami tidak sembarangan dalam menindak. Jika ada mitra yang terbukti melakukan kecurangan, maka kami mengambil tindakan tegas dengan memberikan sanksi putus mitra,” tekan Nila.  Mitra pengemudi, lanjut Nila, dapat melaporkan ofik melalui aplikasi driver GO-JEK atau call center resmi perusahaan. 
”Pelayanan pelaporan dan penelusuran kami laksanakan dengan sigap dengan jangka waktu respons di bawah 1 jam," tukasnya. Nila menyebutkan GO-JEK telah memberikan sanksi ke ratusan ribu pelaku order fiktif, baik pengemudi maupun customer hingga bulan ini. ”Sebagai platform penyedia multi-layanan terbesar di Indonesia, kami akan terus berupaya menyempurnakan sistem kami, serta terus bekerja sama dengan pihak yang berwenang agar mitra kami dapat nyaman dalam bekerja dan pelanggan mendapatkan layanan terbaik,” janjinya.


Referensi:
Anjungroso, Fajar. "Teknologi GO-JEK Mampu Cegat 90 Persen Order Fiktif sebelum Masuk Aplikasi". 20 November 2018. http://www.tribunnews.com/techno/2018/06/10/teknologi-go-jek-mampu-cegat-90-persen-order-fiktif-sebelum-masuk-aplikasi.

Mario Damar, Agustinus. "Upaya Grab dan Go-Jek Atasi Fraud, dari GPS palsu hingga Order Fiktif". 20 November 2018. https://www.liputan6.com/tekno/read/3686623/upaya-grab-dan-go-jek-atasi-fraud-dari-gps-palsu-hingga-order-fiktif

Mulyaningtyas, Yosefin. "Order Fiktif Go-Jek: Pelanggaran Perjanjian Kerja/PMH/Penipuan". 20 November 2018. http://www.sindikat.co.id/blog/order-fiktif-gojek-pelanggaran-perjanjian-kerja-pmh-penipuan

Komentar